Sekolah Tinggi Teknologi Garut
Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.
Program Studi Teknik Informatika
Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.
Rinda Cahyana
Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005
Minggu, 15 Januari 2023
Fokus pada Tekad, Tawakal, dan Ikhtiar
Rabu, 11 Januari 2023
Keterkenalan
Garut, 11 Januari 2023. Suatu saat guru saya, DR Nanang, mengatakan saya adalah maskot kampus tempat saya bekerja. Saya belum memahaminya sampai bertemu pejabat dari kampus lain pada hari ini di bengkel mobil. Kebetulan saya sedang memeriksakan mobil yang roda kanannya bergetar hebat di jalan tol saat pulang kemarin dari Bandung. Beliau mengatakan kalau mendengar nama kampus saya, maka secara otomatis akan mengingat saya yg selama ini melaksanakan kegiatan di tengah masyarakat dgn membawa bendera kampus. Informasi serupa sebelumnya pernah disampaikan oleh adik tingkat, Fahmi Taufiq Zain kepada saya.
Jauh sebelum adanya informasi tsb, saya pernah mengunjungi Kemenkominfo utk menghadiri FGD di Direktorat Pemberdayaan Informatika. Saat itu ada karyawan kementerian yg bertanya perihal asal kami. Saya jawab, dari Garut. Karyawan tsb kemudian berkata, oh dari Sekolah Tinggi Teknologi Garut . Rupanya eksistensi relawan TIK yg saya bangun di Garut telah menjadi fitur kampus. Orang mungkin tdk mengenal saya, tetapi fitur tersebut membuat orang lain teringat dgn kampus tempat saya bekerja. Saya menyimpulkan orang melihat kampus pada diri saya, atau saya menjadi kaki dan tangan kampus di tengah masyarakat.
Pernah suatu ketika saya diminta utk menurunkan intensitas kegiatan di tengah masyarakat. Permintaan tsb tdk saya penuhi krn saya melaksanakannya untuk memenuhi panggilan nurani, ingin membantu pemerintah dan masyarakat, bukan krn motif ingin terkenal. Dalam kamus hidup saya, keterkenalan bukan sesuatu yg perlu dicari. Bagi saya, menemukan cara utk menjadi orang yg bermanfaat itulah yg harus dicari. Selama ini Tuhan memudahkan jalannya, sehingga saya tdk kesulitan utk mengikuti cara tsb, walau banyak rintangannya.
Saya pernah berkata kpd kolega di kampus agar tdk perlu khawatir dgn kepentingan terkait keterkenalan, sebab saya hanyalah jalan keterkenalan kampus. Saya tdk terobsesi dgn keterkenalan. Itulah sebab knp tdk sulit bagi saya utk menolak rekomendasi dari kolega di Kemenkominfo, DR Bonifasius Wahyu Pudjianto, sebelum beliau pindah ke Bekraf, utk mendapatkan penghargaan dari Wakil Presiden krn menganggap ada pegiat di luar sana yg mungkin jauh lebih baik. Pada akhirnya saya mendapat penghargaan dari Presiden krn pengabdian saya selama 10 tahun, dan kalau ada rejekinya saya dapat memperolehnya kembali dua kali. Saya juga tdk menggebu saat akan menerima KomTIK Award dari Gubernur, sehingga tdk sulit memutuskan utk absen dlm upacaranya di lapangan Gedung Sate. Saya menjadikan KomTIK Award yg kedua terkait program #rtikabdimas sebagai jalan motivasi bagi mahasiswa, sehingga meminta mereka dari pengurus Komunitas TIK utk menerimanya. Mereka sangat senang dan mensyukurinya.
Objek keterkenalannya adalah kampus, bukan saya. Dgn atau tanpa menyematkan logo kampus, ada banyak orang di luar sana yg mengenali kampus dari wujud saya. Bagi saya tdk ada masalah, sebab yg dicari selama ini bukan keterkenalan, tetapi bagaimana menjadi sivitas akademik atau insan yg bermanfaat. Tuhan telah mengaruniakan kpd saya suatu cara memberi manfaat kpd kampus melalui manfaat yg saya berikan kpd pemerintah dan masyarakat semampu yg bisa dikerjakan. Sejalan dgn pesan ketua STTG, alm KH Ir Abdullah Margani Musaddad dlm wisuda sarjana kami dulu yg berdasarkan hadits Nabi, agar menjadi insan yg bermanfaat.
Seseorang yg menjadi hamba Tuhan yg sebenarnya tdk akan berusaha mengadakan Aku yg lain selain Tuhan, bahkan akunya sendiri. Ia senantiasa berupaya agar Aku Nya lebih nampak dari pada dirinya dalam setiap kebajikan yg dikaruniakan kpd dirinya. Saya masih belum layak utk mencapai kondisi demikian, namun setidaknya saya merasa bersyukur saat kampus lebih terlihat atau diingat oleh orang lain saat berkegiatan. Mungkin itulah knp saya diberi nama "Cahya na" atau "Cahaya NYA", bukan aku sendiri yg dimaksud oleh kata "nya", tetapi AKU lain yg lebih penting utk dikenal oleh banyak orang dari pada diri sendiri. Pikiran tersebut adalah jalan penghambaan kpd Tuhan dan pengabdian kpd mahluk Nya yg saya pilih.
#BiografiCahyana
Rabu, 28 Desember 2022
Phobia Agama
Terkadang sikap phobia agama seperti penolakan ibadah umat lain yg tertayang dlm konten medsos sdh menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kita. Sebagian orang dlm lingkungan pergaulan saya dulu memiliki sikap demikian, sehingga saat masih kecil saya terpengaruh dan merasa tdk suka dgn kemunculan dua tempat ibadah yg berdekatan di wilayah tempat tinggal tanpa bisa menjelaskan alasannya. Anak kecil memang meniru perilaku orang dewasa tanpa perlu alasan detail. Asal orang yg dilihatnya mengekspresikan hal tsb buruk, anak kecil akan mudah percaya bahwa hal itu buruk. Oleh krn nya konten intoleran akan menjadi materi pembelajaran yg negatif bagi anak dan remaja, sehingga perlu direspon oleh netizen yg membina toleransi.
Semua warga negara bersamaan kedudukan dan haknya dlm beribadah. Komunitas muslim dapat membangun masjid besar atau kecil di mana saja utk memenuhi kebutuhan ibadah warga sekitar, melakukan aktivitas keagamaan di rumah pribadi atau fasilitas umum yg diikuti oleh banyak orang dari luar wilayah, dan hal itu pastinya tdk serta merta membuat semua non muslim di sekitar menjadi mualaf. Saya sedari dulu bisa salat di masjid mana saja yg saya mau. Hal serupa harusnya berlaku sebaliknya, rumah ibadah non muslim boleh dibangun di mana saja, aktivitas ibadah bisa dilakukan di rumah sendiri atau fasilitas publik, di mana hal tsb tdk serta merta membuat muslim di sekitar akan menjadi murtad.
Tentang aktivitas keagamaan di rumah, saya melihat ada kesamaan antara komunitas muslim dan non muslim. Dlm video Kristian Hansen, penjelajah nusantara asal Denmark, saya melihat ada tradisi seperti tahlilan dlm suku Dayak Iban di Sungai Utik. Saat ada kematian salah satu warganya yg beragama Kristen, semua warga menyiapkan makanan utk beberapa kali seremoni. Apakah kita harus keberatan dgn aktivitas seperti itu, sementara non muslim tdk keberatan dgn tahlilan yg biasa dilaksanakan kalangan tradisi di lingkungannya?
Dulu saya pernah mendengar cerita dari teman di lingkungan tentang seorang Kristen yg terungkap jati dirinya dari kalung salib yg tertutupi kerudung. Selama ini ia ikut pengajian utk mendengar tausiah yg menyejukkan. Ia dituduh sebagai mata-mata. Istilah mata-mata memiliki nilai polaritas negatif, sehingga orang dapat dgn mudah menyimpulkan non muslim tdk boleh berada di antara jema'ah pengajian. Dan akhirnya memang non muslim tsb tdk diperbolehkan lagi berada di lingkungan tsb.
Padahal saya sering mendengar pengakuan non muslim yg senang menyimak acara pengajian di televisi. Bahkan di luar negeri sana, non muslim dapat mengunjungi masjid utk mengambil manfaat apapun. Tdk sedikit dari mereka yg memperoleh pengalaman keagamaan yg baik. Tentu saja tdk harus selalu berakhir dgn mualaf, sebab hidayah itu hak Allah semata. Boleh jadi pengalaman tsb menjadi bahan perbaikan bagi praktik keagamaannya yg tdk harus selalu dianggap utk kebutuhan kristenisasi atau semisal lainnya.
Banyak cerita di lingkungan pergaulan saya dulu bahwa orang bisa murtad krn bantuan makanan. Tetapi masa iya alasannya hanya krn mendapat satu kardus mie instan?. Saya percaya orang bisa pindah agama krn melihat jema'ah agama lain lebih baik akhlaknya dari jema'ah agamanya sendiri. Saya meyakini demikian berdasarkan dialog dgn seseorang yg berniat pindah agama krn alasan buruknya perilaku sebagian kelompok umat Islam. Alasannya bermotif phobia krn generalisasi keliru yg juga dialami masyarakat barat. Oleh sebab itu saya pikir, cukup perbaiki saja kualitas ajaran agama dan perilaku beragama di tengah masyarakat utk menjaga keimanan warga agamanya yg berakal dan bernurani baik, tdk perlu dgn bersikap intoleran yg hanya memicu phobia di kalangan yg memiliki kerancuan berpikir.
Saat sebagian kelompok muslim mempersulit pemenuhan kebutuhan agama umat lain, mungkin mereka lupa akan perjanjian Nabi Muhammad SAW utk melindungi ibadah umat Kristen di Najran. Mereka lupa bahwa beliau pernah bersabda, "Barangsiapa menyakiti seorang zimmi (non Muslim yang tidak memerangi umat Muslim), maka sesungguhnya dia telah menyakitiku. Dan barang siapa yang telah menyakitiku, maka sesungguhnya dia telah menyakiti Allah.” (HR Imam Thabrani); "Ketahuilah, bahwa siapa yang menzalimi seorang mu’ahad (non-Muslim yang berkomitmen untuk hidup damai dengan umat Muslim), merendahkannya, membebaninya di atas kemampuannya atau mengambil sesuatu darinya tanpa keridhaan dirinya, maka saya adalah lawan bertikainya pada hari kiamat" (HR imam Abu Dawud).
#BiografiCahyana
Rabu, 21 Desember 2022
Can’t move the folder because there is a folder in the same location that can’t be redirected
Ever had trouble moving the Documents location to another location and seeing this message: Can't move the folder because there is a folder in the exact location that can't be redirected? The Documents location is always in a OneDrive subfolder, so all files stored in that folder will be backed up by Microsoft to OneDrive. Here are the steps you can take to change the document location so it is not in a OneDrive subdomain:
- Open Settings
- Select the Accounts menu, then Windows Backup
- Click the Manage sync settings button, then turn off backup for Documents
Good luck!
Yang Lebih Bermakna dari Gelar Duniawi
Minggu, 18 Desember 2022
Tergores itu Menyakitkan
Menjaga Akidah dengan Akhlak Toleran
Miris sekali bila ada sekumpulan penduduk lokal yg agamanya diakui oleh negara, tetapi tdk punya rumah ibadah di lingkungannya, sampai beribadah di rumah dan disarankan beribadah hari raya di tempat ibadah yg berada di luar lingkungannya. Padahal umat beragama lain dapat membangun tempat ibadah kecil dgn mudah dan beribadah hari raya di luar tempat ibadah. Terkadang orang begitu khawatir akidahnya berubah dgn keberadaan simbol-simbol agama. Padahal yg mendorong pencari agama yg sebenarnya bukanlah kehendak utk menyematkan simbol agama yg hanya sekedar tampilan saja, tetapi ajaran yg membuat hidupnya menjadi lebih baik dan damai.
Mungkin kita bisa belajar dari penjual produk makanan, di mana kemasan merupakan simbol yg dapat menimbulkan daya tarik, sehingga konsumen tertarik utk membelinya. Tetapi yg membuat konsumen terus mengkonsumsi bukan kemasannya, tetapi rasa makanannya. Desain kemasan semenarik apapun kalau rasa makanannya tdk lebih enak dibandingkan produk lain atau bahkan tdk enak sama sekali, sudah pasti bakal ditinggalkan. Kesuksesan bisnis makanan itu terletak pada rasa makanan.
Demikian pula dgn agama. Ada banyak pembangunan rumah ibadah yg megah, indah, dan unik, tetapi bila minat orang ke sana hanya sekedar penasaran ingin melihatnya secara langsung dan selfie, itu baru sebatas upaya menimbulkan daya tarik saja. Tetapi urusan terpentingnya adalah mereka betah atau tdk, sehingga jama'ah nya banyak. Betah itu bukan sebatas betah di dlm rumah ibadah krn indah, nyaman atau adem, tetapi betah di luar rumah ibadah krn agama membuat hidupnya menjadi lebih nyaman dan adem.
Agama itu menawarkan jalan hidup yg baik. Bila kita duduk di tempat ibadah yg besar dan indah, tetapi di dalamnya ada pengajaran agama yg membentuk perilaku intoleran yg tdk indah, sehingga di tengah masyarakat audiennya menjadi sosok yg menolak kehadiran kelompok lain yg berbeda, mudah menstigma negatif thd kelompok tsb, bersikap diskriminatif dlm kehidupan sosial, dan bahkan melakukan serangan psikis hingga fisik ... para pencari jalan hidup yg baik pasti akan meninggalkannya. Bahkan bila para pencari tersebut memiliki cara berpikir generalisasi keliru yg membuatnya beranggapan sikap intoleran atas nama agama yg ditunjukan oleh sekelompok orang itu sebagai ajaran agama secara umum, sudah pasti mereka akan mencari agama lain atau memilih tdk beragama. Buat apa bangunan rumah ibadah megah dan mewah bila jema'ah nya sedikit, atau banyak dikunjungi hanya krn motif wisata saja?.
Menjaga akidah itu bukan dgn menolak keberadaan rumah ibadah yg menjadi kebutuhan umat beragama, menolak mereka beribadah di ruang publik sebagaimana umat lainnya, tetapi dgn menunjukan akhlak yg baik terhadap umat beragama yg beragam, seperti saling melayani dan melindungi sebagai konsekuensi dari komitmen hidup berbangsa dan bernegara. Sikap intoleran tdk menjaga akidah dan kontradiktif dgn syiar agama. Upaya membangun agama mula-mula bukan mendirikan bangunan ibadah, tetapi menyampaikan pengetahuan yg mengubah cara berpikir dan perilaku, atau jalan hidup. Sejarah Nabi mengajarkan kpd kita, pengajaran yg meluruskan pemahaman Ketuhanan serta membangun kesetaraan dan toleransi itu lebih dahulu dilakukan dari pada membangun rumah ibadah. Hal itu menunjukan bahwa esensi agama itu ada dlm pengajaran dan pengamalannya. Nabi diutus utk membangun akhlak yg baik. Tetapi herannya, kita melihat ada sekelompok orang yg mengatas namakan agama berlomba-lomba dalam membangun rumah ibadahnya dari besar hingga kecil di mana-mana, tetapi menolak rumah ibadah yg dibutuhkan oleh umat lain di mana saja dgn bersandar pada prasangka dan pemahaman keagamaan intoleran yg tdk dicontohkan oleh Nabi.
#PersepsiCahyana